Dapatkan buku kami "Serba-Serbi Kesehatan Gigi & Mulut" di toko buku terdekat. Diterbitkan oleh penerbit buku anak muda Bukune. Selengkapnya: Buku: SERBA SERBI KESEHATAN GIGI & MULUT

Senin, 31 Maret 2014

April Adalah Bulan Kepedulian Kanker Mulut

Di Amerika Serikat, pemerintah menetapkan bulan April sebagai Bulan Kepedulian Kanker Mulut. Tahun ini sendiri, hampir 42.000 penduduk Amerika terdiagnosis menderita kanker mulut atau tenggorokan. Oral Cancer Foundation pun mencoba mengkampanyekan agar orang-orang agar mau melakukan pemeriksaan rutin kanker mulut kepada dokter gigi. Pemeriksaan rutin dapat mendeteksi tanda awal dari kanker mulut, sehingga lesi kanker dapat disembuhkan dengan lebih mudah.


Selain melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, pasien juga perlu mengetahui dan mewaspadai tanda dan gejala berikut, dan segera menghubungi dokter gigi apabila tanda dan gejala tersebut tidak menghilang dalam dua minggu:
1. Rasa sakit atau iritasi pada mukosa mulut yang tidak hilang.
2. Bercak berwarna merah atau putih.
3. Kebas atau mati rasa pada mukosa mulut.
4. Benjolan, penebalan, ataupun lesi seperti sariawan yang tidak menghilang.
5. Sulit untuk mengunyah, menelan, berbicara, atau menggerakkan lidah dan rahang Anda.
6. Perubahan hubungan gigitan antara gigi rahang atas dan rahang bawah.

Peneliti telah mengidentifikasi beberapa faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan kanker mulut. Mereka yang berisiko tinggi menderita kanker mulut adalah peminum alkohol dan perokok berat. Human papilloma virus, yang ditularkan secara seksual juga meningkatkan insidensi perkembangan kanker mulut pada pasien yang tidak merokok.

Mulut Anda adalah sistem pemberi peringatan awal yang paling penting yang memberitahukan adanya gangguan kesehatan di dalam tubuh. Jangan pernah abaikan adanya tanda-tanda di dalam mulut yang tidak sembuh lebih dari dua minggu. Segera periksakan diri ke dokter gigi untuk memastikan apakah tanda dan gejala tersebut membutuhkan perawatan lebih lanjut.


American Dental Association: April Is Cancer Awareness Month



Perhatian: Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.
Apabila Anda ingin berlangganan berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat, daftarkanlah alamat email Anda dengan meng-klik kata berlangganan: Berlangganan. Berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat akan langsung dikirimkan ke email Anda.
Kembali ke halaman utama

Lanjut membaca: “April Adalah Bulan Kepedulian Kanker Mulut”  »»

Rabu, 26 Maret 2014

Olahraga Yang Dapat Menguatkan Tulang

Osteoporosis adalah salah satu penyakit yang dapat mengancam kita di usia senja. Salah satu cara mencegah osteoporosis adalah dengan berolah raga untuk memperkuat struktur tulang kita. Olahraga seperti apa saja yang dapat membuat tulang kita lebih kuat?


Secara umum, segala aktivitas yang meliputi kegiatan yang menghasilkan hentakan terhadap bumi (latihan high impact), seperti berjalan dan melompat, merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan kepadatan tulang, menurut Dr. John Tobias, profesor rheumatologi di University of Bristol. Aktivitas fisik semacam ini akan menghasilkan gaya hentakan dari tanah yang bergerak melalui tulang dan menstimulasi tulang untuk remodeling dan menambah kepadatannya.

Lari sprint dan melompat merupakan contoh latihan high impact yang sudah banyak diteliti. Dalam sebuah penelitian terkini, wanita usia 25-50 yang melakukan latihan melompat sebanyak 10 kali dua kali sehari selama 4 bulan, memperoleh peningkatan kepadatan tulang yang signifikan di daerah tulang pinggul mereka.

Namun yang menarik, ternyata latihan beban bukan merupakan latihan yang efektif untuk meningkatkan kepadatan tulang. Walaupun begitu, latihan beban dikatakan tetap memiliki manfaat untuk meningkatkan kesehatan tulang.

Latihan lain yang juga dapat meningkatkan kepadatan tulang adalah berjalan kaki. Namun bukan jalan kaki biasa, melainkan jalan kaki yang dilakukan dengan cepat. Selain itu, menurut sebuah penelitian apabila jalan kaki tersebut dilakukan terkadang ke arah samping dan belakang, akan diperoleh efek remodelling di daerah tulang pinggul dan punggung.

Selamat berolah raga dan tetap sehat!



The New York Times: Exercises to Strengthen Bones


Perhatian: Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.
Apabila Anda ingin berlangganan berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat, daftarkanlah alamat email Anda dengan meng-klik kata berlangganan: Berlangganan. Berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat akan langsung dikirimkan ke email Anda.
Kembali ke halaman utama

Lanjut membaca: “Olahraga Yang Dapat Menguatkan Tulang ”  »»

Kamis, 13 Maret 2014

Stetoskop Sebagai Pembawa Kuman

Alat stetoskop yang digunakan dokter merupakan alat yang rentan terkontaminasi bakteri dan dapat berpindah dari pasien yang satu ke pasien yang lainnya.


Sebuah penelitian mencoba membuat kultur bakteri dari ujung jari, telapak tangan, dan stetoskop dari 3 dokter yang telah melakukan pemeriksaan fisik standar terhadap 83 pasien di rumah sakit Swiss. Secara spesifik, mereka mencoba mencari bakteri yang berpotensi mematikan, yaitu methicillin-resistant Staphylococcus aureus atau MRSA.

Dari penelitian yang dilakukan, diketahuilah bahwa ujung jari dari tangan yang dominan digunakan adalah bagian yang paling banyak terkontaminasi kuman. Namun ternyata, bagian stetoskop yang biasa menyentuh kulit pasien memiliki kuman lebih banyak lebih dari dua kali lipat dibandingkan telapak tangan dokter. Dan bagian stetoskop ini lebih banyak terkontaminasi MRSA.

Menurut penelitinya, Dr. Didier Pittet dari University of Geneva Hospitals, ditemukannya bakteri pada stetoskop bukanlah hal yang mengejutkan. Dia mengatakan juga kalau dia selalu membersihkan stetoskop yang dimilikinya dengan mengusapkan alkohol setiap selesai melakukan suatu pemeriksaan. Walaupun begitu, masih ada sebagian tenaga kesehatan yang tidak melakukan hal tersebut.

"Kita tidak punya solusi lain yang lebih mudah," tambah Pittet. "Mungkin sudah saatnya untuk menerapkan satu stetoskop untuk satu pasien, paling tidak di instalasi ICU. Namun hal ini tentu akan sulit diterapkan di rumah sakit besar yang memiliki banyak pasien. Sangat disayangkan karena kita tidak memiliki panduan untuk hal tersebut."


New York Times: Stethoscope as Germ Carriers

Perhatian: Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.
Apabila Anda ingin berlangganan berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat, daftarkanlah alamat email Anda dengan meng-klik kata berlangganan: Berlangganan. Berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat akan langsung dikirimkan ke email Anda.
Kembali ke halaman utama

Lanjut membaca: “Stetoskop Sebagai Pembawa Kuman”  »»